Boleh Merger, Namun Sesuai Dengan UUPT

Merger, akuisisi, dan konsolidasi mempunyai fungsi ganda yakni selain untuk menjaga stabilitas suatu perusahaan yang akan mengalami kebangkrutan, juga di dalam rangka menyiasati perusahaan yang ingin berkembang lebih besar. Perusahaan yang akan mengalami kebangkrutan atau perusahaan yang ingin berkembang lebih besar pada akhirnya akan memilih untuk menggabungkan, meleburkan, atau menguasai atau dikuasai sahamnya. Menurut UUPT  konsolidasi, merger, ataupun akuisisi sebagai cara penting yang pelaksanaannya hanya bisa dilakukan atas persetujuan RUPS.

     Merger merupakan penggabungan sebuah perusahaan ke dalam perusahaan yang umumnya mempunyai kedudukan perekonomian lebih stabil, dimana perusahaan yang meleburkan diri kemudian bubar. Dengan demikian di dalam merger, secara institusi perusahaan yang meleburkan diri tidak ada lagi. Berbeda dengan akuisisi, akuisisi merupakan pengambilalihan saham sebuah perusahaan oleh perusahaan yang umumnya mempunyai kedudukan perekonomian lebih stabil, dimana perusahaan yang mengambil alih selanjutnya akan menduduki posisi pemegang saham mayoritas. Sementara konsolidasi secara harfiah berarti penyatuan, yakni penggabungan dua atau lebih perusahaan menjadi satu perusahaan baru. Di dalam konsolidasi perusahaan yang menggabungkan diri secara institusi kemudian akan bubar, sehingga yang ada hanyalah perusahaan baru.

      Dewasa ini metode merger yang juga dikenal di dalam dunia praktik yakni Metode Triangular Merger dan Reverse – Triangular MergerTriangular merger merupakan metode merger yang dilakukan antara perusahaan yang dimerger (target company) dengan perusahaan anak yang baru dibentuk oleh suatu perusahaan (perusahaan induk). Dengan demikian perusahaan induk tidak memerger secara langsung target company, namun membentuk perusahaan anak sehingga perusahaan yang akan dimerger hanya akan melakukan merger dengan perusahaan anak. Demikian ini dilakukan guna menghindari tanggung jawab perusahaan induk terhadap passiva target company.

      Metode lain yakni Reverse – Triangular Merger, merupakan metode merger dimana perusahaan yang akan menggabungkan diri (absorbing company), membentuk perusahaan anak terlebih dahulu kemudian hanya perusahaan anak yang akan melakukan merger dengan absorbing company. Dengan demikian perusahaan induk akan tetap eksis, karena hanya perusahaan anaklah yang akan bubar karena melakukan merger dengan perusahaan lain. Dua metode ini sering digunakan di dalam proses merger perusahaan besar, meskipun secara eksplisit UUPT tidak mengenal dua metode ini.

      Baik pada metode triangular merger maupun reverse triangular merger, kedudukan perusahaan anak baru diadakan menjelang proses merger. Keberadaan perusahaan anak bisa jadi  hanya sementara (adhoc) sebagaimana yang terjadi di dalam metode reverse-triangular merger, ataupun permanen sebagaimana yang terdapat  di dalam metode triangular merger.

Alasan Metode Triangular Merger dan Reserve Triangular Merger Dipilih oleh Perusahaan Induk

      Triangular merger biasa dipilih oleh perusahaan yang ingin melakukan merger terhadap suatu perusahaan atas pertimbangan bahwa dengan metode triangular merger kekayaan perusahaan induk tidak akan bercampur dengan passiva target company karena target company hanya akan melakukan merger dengan perusahaan anak, sesuai prinsip merger maka perusahaan anak akan eksis dan target company secara otomatis akan bubar sejak merger selesai dilakukan. Ciri-ciri merger diantaranya adalah beralihnya aktiva dan passiva target company kepada absorbing company, selanjutnya target company akan bubar. Sementara terdapat risiko yang dapat diprediksikan atas bercampurnya passiva target company yakni passiva-passiva tak terduga yang sebenarnya jumlahnya tidak seberapa namun dimiliki lebih dari satu orang kreditor. Percampuran passiva tersebut dapat menyebabkan absorbing company dimohonkan pailit oleh para kreditor target company setelah merger dilakukan, mengingat syarat kepailitan yang cukup sederhana yakni terdapat minimal satu utang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, dan minimal dua orang kreditor.

      Metode Triangular merger coba untuk meminimalisir kemungkinan di atas, yakni dengan cara mendirikan perusahaan anak terlebih dahulu selanjutnya merger hanya dilakukan antara target company dengan perusahaan anak. Perusahaan anak yang baru dibentuk adalah perusahaan berbadan hukum, dengan demikian kalau setelah merger dilakukan kreditor-kreditor target company akan mengajukan kepailitan maka risiko kepailitan hanya ditimpakan kepada perusahaan anak dan tidak akan berpengaruh pada perusahaan induknya.

      Reverse Triangular Merger biasanya merupakan pilihan absorbing company dan bukan pilihan target company. Adapun tujuan dilakukannya merger seperti umumnya merger yakni pertama menutup kelemahan finasial, kedua pengikisan managemen yang tidak efektif, ketiga peningkatan penguasaan pasar, dan terakhir pengurangan biaya pengurusan kasus kepailitan. Reverse triangular biasanya bukan pilihan perusahaan yang ingin melakukan merger, karena kalau alasan merger mendasarkan pada pertimbangan ini tentunya absorbing company tidak akan bersedia melakukan merger terhadap perusahaan yang belum ada dan masih baru akan diadakan. Reverse Triangular Merger biasanya dipilih oleh absorbing company, semacam persyaratan yang ditentukan oleh absorbing company dan harus dipenuhi oleh target company. Umumnya dilakukan oleh absorbing company yang menginginkan merger dengan suatu perusahaan yang memiliki lebih dari satu jenis usaha, sementara absorbing company hanya ingin menerima penggabungan pada unit usaha tertentu saja. Seperti contoh berikut: perusahaan yang bergerak dibidang produksi genteng, produksi batu-bata, dan jasa konstruksi ingin melakukan merger dengan satu perusahaan besar yang bergerak dibidang developer. Perusahaan developer hanya bersedia menerima penggabungan untuk jenis usaha produksi genteng, kemudian syarat yang harus dipenuhi oleh target company adalah membentuk anak perusahaan yang hanya menjalankan usaha produksi genteng dan proses merger hanya akan dilakukan terhadap perusahaan itu.

Perspektif UUPT :

      UUPT mengatur merger antara perseroan yang sama-sama eksis, dan bukan perseroan yang baru eksis begitu terdapat keinginan akan melakukan merger.  Padahal kalau melihat ciri-ciri dua metode merger di atas, maka kita dapat mengetahui bahwa baik dalam metode reverse triangular merger dan metode Triangular merger keberadaan perusahaan anak (baik sebagai target company maupun absorbing company) adalah bersamaan atau setelah adanya keinginan merger. Dengan demikian, persyaratan-persyaratan merger sebagaimana telah diatur di dalam UUPT khususnya mengenai hal-hal berikut ini akan sulit untuk dipenuhi :

1)  Alasan serta penjelasan direksi perseroan yang melakukan penggabungan dan persyaratan penggabungan;

2)  Laporan keuangan yang meliputi 3 (tiga) tahun buku terakhir dari setiap perseroan yang akan melakukan penggabungan;

3)  Neraca performa perusahaan yang akan menerima penggabungan untuk metode Triangular merger;

4)  Rancangan perubahan anggaran dasar.

      Meskipun menentukan mekanisme merger merupakan hak para pihak, namun pelaksanaannya tetap harus berpedoman pada ketentuan yang terdapat di dalam UUPT, karena merger yang tidak mendasarkan pada UUPT akan berakibat pada batalnya merger tersebut. Mempertimbangkan prosedur pelaksanaan penggabungan yang harus memenuhi syarat-syarat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa UUPT tidak mengakui metode  Reserve  – Triangular Merger dan Triangular Merger. Hal ini karena di dalam kedua metode di atas perusahaan induk sama-sama tidak ingin terlibat secara langsung di dalam proses merger, meskipun menginginkan merger dilakukan. Hal ini dianggap kurang memberikan jaminan perlindungan hukum terhadap kreditor – kreditornya.

ShareTweet about this on TwitterShare on Google+Share on Facebook

© 2014 Safe Law Firm